REVOLUSI DIGITAL KRATON YOGYAKARTA
DALAM MENGHADAPI KEMAJUAN TEKNOLOGI
Muhamad Nur Rachman Alfi Widjaja (33417789), Kelas 1ID01, Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi
Industri, Universitas Gunadarma, Depok
BAB 1 PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Di
era modernisasi saat ini,tidak banyak kerajaan yang masih berdiri, semua itu
karena pemerintahan monarki sudah dianggap tidak sesuai untuk kondisi
pemerintahan saat ini dan lebih memilih menggunakan sistem pemerintahan
demokrasi, begitupun di Indonesia. Namun, di Yogyakarta eksistensi Kraton dan
pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja masih berlanjut dan berkembang
sampai sekarang, dengan sistem pemerintahan itu Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta bisa bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu kota besar di
Indonesia.
Kraton
Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang
berlokasi di jantung kota Yogyakarta. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi
telah bergabung dalam NKRI pada tahun 1950, namun komplek keraton ini masih
berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya masih
menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Kraton ini kini juga merupakan
salah satu objek wisata favorit yang paling sering dikunjungi di kota Jogja.
Sebagian kompleks kraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik
kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka
keraton, kereta kencana dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini
merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki beberapa
balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas. Keraton Jogja ini
dirancang oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1775, tak lama sesudah
penandatanganan Perjanjian Giyanti.
Berbicara
soal modernisasi saat ini, tentu modernisasi tak bisa luput dari teknologi, teknologi
merupakan perkembangan suatu media atau alat yang dapat digunakan dengan lebih
efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. Karena teknologi
bersifat berkembang atau selalu mengikuti perubahan jaman, masyarakat pengguna
teknologi pun tanpa disadari mengikuti perubahan tersebut, sehingga jika kita
tidak dapat memilah konten-konten dari teknologi tersebut dapat berakibat
buruk, contohnya melupakan identitas budaya sendiri dan lebih senang meniru
budaya luar dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut.
1.
Apa yang dimaksud dengan Kraton Yogyakarta dan Teknologi ?
2.
Bagaimana hubungan budaya Kraton Yogyakarta dan Teknologi masa kini ?
3.
Apa dampak Teknologi terhadap budaya Kraton Yogyakarta ?
4.
Bagaimana upaya Kraton Yogyakarta dalam menghadapi era modernisasi teknologi
masa kini.
1.3 Tujuan
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui arti dari Kraton
Yogyakarta dan Teknologi
2.
Untuk menambah wawasan tentang kebudayaan hubungan Kraton Yogyakarta dan
Teknologi masa kini.
3. Untuk mengetahui dampak Teknologi terhadap
budaya Kraton Yogyakarta
4.
Untuk mengetahui upaya Kraton Yogyakarta dalam menghadapi era modernisasi
teknologi masa kini.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kraton Yogyakarta dan Teknologi
Sejarah Berdirinya Kraton Yogyakarta
Setelah
Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Untuk
menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada
tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini dinilai cukup baik karena
diapit dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di
Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan
Hamengku Buwono I (HB I). Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah
pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk
istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta)
yang akan dimakamkan di Imogiri. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta
memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara),
Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan,
Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung
Selatan. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik
yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain,
Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku
adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu
pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.
Kraton
merupakan mata air peradaban yang tak pernah surut di makan waktu. Sejak
berdirinya, Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, merupakan salah satu dari empat
pusat kerajaan Jawa (projo kejawen) yang merupakan pewaris sah kejayaan
kebudayaan Mataram. Para raja Mataram dan kemudian para Sultan Yogya mendapat
predikat sebgai raja pinandhita dan narendra sudibyo yaitu pencipta (kreator)
kebudayaan yang produktif.
Para
Sultan bersama para ahli adat, melahirkan gagasan-gagasan asli tentang seni,
sastra, sistem sosial, sistem ekonomi, dan seterusnya. Sri Sultan Hamengku
Buwono I misalnya, melahirkan banyak karya seni dan arsitektur. Dengan Kraton
sebagai pusat, masyarakat Yogya sudah berkembang menjadi sebuah sistem
peradaban tersendiri sejak sebelum bergambung dengan RI (1945). Itulah yang
disebut dalam Pasal 18 UUD 1945 (sebelum diamandemen) sebagai ‘’susunan asli.”
Sejak Kraton berdiri, Yogya telah mempunyai sistem pemerintahan tersendiri dan
telah melakukan reformasi pada tahun 1926 (reorganisasi Pangreh Praja). Kraton
sebagai pusat peradaban terlihat dari pola penyebaran kebudayaan yang
memancarkan keluar secara sentrifugal. Dulu, Kraton merupakan pusat
pemerintahan politis. Wilayah kekuasaan kasultanan diklasifikasi menurut konsep
lapisan konsentris trimandala praja.
Lapisan
terdalam yang merupakan wilayah pusat kerajaan disebut nagara, merupakan
ibukota kerajaan yang menjadi tempat tinggal raja dan para pejabat penting.
Pusat nagara adalah Kraton.
Lapisan
kedua, disebut wilayah nagaragung yaitu daerah-daerah sekitar kota
(ommanlanden). Lapisan ketiga, disebut wilayah monconagoro yaitu daerah-daerah
yang letaknya jauh (buitengawesten).
Dibandingkan
dengan Kraton Yogya, Republik Indonesia adalah sebuah peradaban yang masih
sangat muda. Yogya turut membidani kelahiran peradaban baru itu. Ketika RI
mengalami masa-masa kelahiran yang sangat kritis, Yogya memberi diri menjadi ”ibu
pengasuh” dengan segala pengorbanannya. Secara politis itu sangat jelas,
ibukota RI dipindah ke Yogya (sejak 1946). Kraton (Sri Sultan Hamengku Buwono
IX) mengatur strategi Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk menunjukkan eksistensi
RI di mata dunia dan sebagainya. Sejak awal, Yogya telah memberikan banyak
nutrisi bagi pertumbuhan peradaban Indonesia. RI bagaikan bayi yang menyusu
pada Yogya sebagai induk semangnya. Banyak gagasan peradaban muncul dari Yogya.
Dalam dunia pendidikan misalnya, pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan bukti
sumbangsih kearifan lokal Yogya bagi kemajuan peradaban modern Indonesia.
Sejarah
Teknologi
Alat
dan teknologi atau teknik hasil penemuan manusia yang pada akhirnya dapat
digunakan untuk memudahkan aktifitas manusia itu sendiri. Sejarah teknologi
dimulai dari munculnya spesies manusia di muka bumi, jejak-jejak peralatan dan
teknologi yang dimiliki manusia sejak awal peradabannya ditemukan, kemudian
direkontruksi secara historis dan kemudian dianalisa kaitannya dengan perkembangan
peradaban manusia. Sejarah teknologi manusia dimulai dari hal sederhana seperti
pengembangan bahasa, pembuatan perkakas dari batu hingga yang sangat rumit
seperti komputer kuantum.
Berkembangnya
suatu teknologi aplikatif dapat ditinjau dari kebutuhan manusia sendiri untuk
seperti mengatasi perubahan cuaca dan iklim, menghadapi serangan hewan buas,
mempermudah aktifitas ekonomi hingga peperangan. Namun teknologi juga dapat
berkembang dari aspek teoretis yakni hanya berlandaskan keingintahuan manusia
akan fenomena alam yang terjadi disekitarnya, seperti penemuan hukum gravitasi
dan kalkulus oleh Isaac Newton dan Leibniz. Sains dan teknologi adalah dua hal
yang tidak dapat dipisahkan begitu pula sejarah dan perkembangannya. Namun
demikian tentu saja dapat terlihat perbedaan yang mencolok saat membahas
sejarah dan perkembangan teknologi, sejarah teknologi membahas aspek terapan
dari sains, seperti penemuan peralatan atau teknik untuk memudahkan suatu
aktifitas manusia. Sedangkan sejarah sains mempunyai cangkupan yang lebih luas
karena mengkaji suatu gejala alam atau gejala yang terjadi di kehidupan manusia
berdasarkan aspek-aspek teoretis ataupun yang berkaitan dengan hal-hal abstrak
secara matematis hingga ranah filsafat.
Karena
teknologi merupakan suatu hal yang aplikatif, maka perkembangan teknologi
sangat mempengaruhi perubahan aktifitas ekonomi, sosial, politik, dan budaya
dari kehidupan manusia, sehingga sejarah teknologi dapat pula direkontruksi
berdasarkan perubahan-perubahan ini.Sejarah teknologi membahas perkembangan
teknologi secara umum. Sains dan teknologi adalah suatu hal yang sangat luas.
Untuk detail yang lebih akurat dari sejarah dan perkembangan dari suatu bidang
sains atau teknologi, lebih tepat jika sejarah dari suatu bidang sains atau
teknologi ditinjau satu-persatu berdasarkan bidang yang dimaksud.
2.2 Hubungan Budaya Kraton Yogyakarta dan Teknologi
masa kini
Teknologi adalah kekuatan untuk dapat berproses agar
mempunyai daya saing untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan. Teknologi merupakan
tantangan masa depan yang tidak perlu ditakuti, tapi perlu diberikan ruang
dalam batas-batas proporsionalitas yang bisa dilakukan,
Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi
solusi, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai wahana peningkatan
kesejahteraan, keunggulan, serta kemandirian daerah dan bangsa dalam percaturan
persaingan teknologi dan ekonomi global.
Beda
hal nya dengan kebudayaan, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni. Kebudayaan ada yang berbentuk materi dan non materi. Setiap negara
memiliki kebudayaan yang beraneka ragam beserta ciri khasnya, salah satunya
ialah kebudayaan Kraton Yogyakarta. Kebudayaan Kraton Yogyakarta mencerminkan
perilaku dan kebiasaan dari warga Kraton Yogyakarta. Namun pada zaman sekarang
ini nilai-nilai kebudayaan seakan semakin menghilang, hal ini terlihat dari
banyaknya perilaku-perilaku yang sudah jauh bertentangan dari nilai-nilai
kebudayaan tersebut. Keadaan seperti itu mengharuskan kita untuk lebih
menghargai kebudayaan dan membentengi diri dengan memperkuat dimensi dari
kebudayaan bangsa.
Pada
dasarnya teknologi yang ada saat ini ada karena suatu budaya yang telah ada
sejak lama. Dasar-dasar ilmu yang ada untuk menciptakan teknologi itu pun di
dapat dari penelitian suatu ilmiah yang terkandung dari suatu budaya. Maka
karena itulah budaya dan teknologi saling ketergantungan.
2.3 Dampak Teknologi terhadap budaya Kraton Yogyakarta
Adanya Teknologi tentunya sangatlah mempengaruhi perkembangan
dan eksistensi budaya Kraton Yogyakarta. Maka dari itu kita bisa simpulkan
bahwa Teknologi itu bisa berdampak positif jika menggunakannya dengan baik,
juga dapat berdampak negatif bila kita tidak bijak dalam menggunakannya.
Berikut merupakan Dampak Positif dan Dampak Negatif dari penggunaan Teknologi
terhadap Kraton Yogyakarta.
Dampak postif Teknologi
terhadap Kraton Yogyakarta :
1. Memudahkan penyebaran
informasi kebudayaan Kraton Yogyakarta
Dengan adanya Teknologi masyarakat
akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat, aktual, dan dapat
diakses kapan pun dimanapun sehingga masyarakat tidak akan melupakan budaya
budaya yang ada di Kraton Yogyakarta.
2. Memudahkan
berinteraksi sosial dan berkomunikasi
Di era modernisasi saat
ini, dikatakan mudah untuk berkomunikasi. Di temukannya teknologi berupa telepon,
surat elektronik, handphone dan alat komunikasi lainnya tentu dapat mempermudah
kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi tanpa harus bertatap muka.
3.Efisiensi biaya dalam
mendapatkan informasi
Pada jaman dahulu untuk
mendapatkan informasi tentu sangatlah susah dan memerlukan biaya, namun dengan
perkembangan teknologi saat ini mendapat informasi sangat lah mudah dan tak
harus mengeluarkan biaya yang besar, contohnya hanya dengan menggunakan
internet kita akan dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan
Dampak negatif Teknologi
terhadap Kraton Yogyakarta :
1. Bersifat berkembang
Sekilas kebudayaan dan
teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik
beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini
dan terus berpikir maju kedepan.
2. Budaya hanya jadi
objek dari kebudayaan global
budaya Indonesia hanya
akan enak ditonton untuk sekadar menghilangkan stres. Tidak seperti negara lain
yang menjadikan kebudayaan sebagai subjek.
3. Kesenjangan Sosial
Apabila dalam suatu
komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus
modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara
individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan
sosial.
2.4 Upaya yang dilakukan Kraton Yogyakarta dalam
menghadapi era modernisasi
Sekarang masyarakat bisa tak hanya ngepoin para selebritis,
namun juga Keraton Yogyakarta. Istana resmi Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat itu memiliki tiga akun media sosial yang aktif, yaitu Facebook
Kraton Jogja, Instagram @kratonjogja_ dan Twitter @kratonjogja. Ketiga akun
tersebut berhulu pada situs resmi kratonjogja.id dan dikelola oleh tim Tepas
Tandha Yekti, sebuah divisi baru di Kraton Yogyakarta yang bertugas menangani
urusan informasi teknologi (IT) dan dokumentasi. Divisi ini dikepalai oleh GKR
Hayu yang merupakan putri keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Gambar diatas merupakan
akun media sosial Kraton Yogyakarta di twitter.
Penampilan media sosial Kraton
Yogyakarta di Facebook.
Kehadiran
tiga akun media sosial dan situs yang secara resmi dikelola oleh Kraton
Yogyakarta ini merupakan bagian dari upaya untuk menyiarkan budaya adiluhung
dari dalam lingkungan keraton ke seluruh penjuru dunia. Pada saat acara
peresmian situs resmi yang digelar di Bangsal Sri Manganti, bulan Maret lalu,
GKR Hayu mengatakan bahwa informasi yang disebarluaskan melalui media sosial
dan situs bersifat aktual dan akurat. Ia pun berharap agar saluran ini bisa
menjadi museum virtual tentang kekayaan budaya Jawa.
Sambutan
masyarakat pada akun-akun media sosial Kraton Yogyakarta itu sangat baik. Per
11 Mei 2017, mereka telah memiliki sekitar 72,400 pengikut di Instagram,
sekitar 19,200 pengikut di Twitter dan 88,800 Facebook fans. Bukan cuma warga
Yogyakarta, para pengikut dan fans di akun-akun tersebut juga berasal dari
kota-kota lain di Indonesia dan bahkan di luar negeri. Strategi menggunakan
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, alih-alih bahasa
Jawa, sepertinya berkontribusi cukup signifikan untuk meningkatkan jumlah
pengikut seantero Indonesia dan dari mancanegara.
Ada
banyak hal yang bisa masyarakat ketahui dari mengunjungi akun media sosial dan
situs Kraton Yogyakarta. Foto-foto dan video yang diunggah dengan tambahan
narasi itu menyampaikan beragam hal, misalnya:
1. jenis-jenis dan aturan busana yang
digunakan di lingkungan keraton, mulai dari ageman abdi dalem hingga pakaian
surjan Sultan,
2. rangkaian upacara adat yang rutin digelar
oleh Kraton Yogyakarta pada hari-hari khusus,
3. fungsi bangunan-bangunan yang ada di
dalam lingkungan keraton atau di tempat lain yang dikelola oleh pihak Kraton
Yogyakarta,
4. asal-usul nama dan sejarah para prajurit
yang ada di Kraton Yogyakarta,
5. ornamen-ornamen yang menghias bangunan di
lingkungan keraton,
6. kegiatan-kegiatan seni budaya Jawa yang
berlangsung di keraton, mulai permainan gamelan, pertunjukan tari, membatik,
hingga olahraga memanah tradisional (jemparingan mataraman).
Informasi
yang didapatkan lewat media sosial Kraton Yogyakarta sangat bermanfaat untuk
menambah wawasan tentang budaya Jawa. Dengan umurnya yang sudah sangat panjang,
Kraton Yogyakarta yang mulai didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I
beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 memiliki budaya yang
sarat akan nilai tradisi dan sejarah. Ada hal-hal yang selama ini sudah banyak
diangkat di media massa sehingga familiar bagi masyarakat. Namun, juga tak
sedikit hal trivia dan sekaligus bermakna filosofis yang selama ini tidak
diketahui secara luas.
BAB 3 PENUTUP
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Eksistensi
Kraton Yogyakarta di media sosial adalah sesuatu yang perlu kita apresiasi.
Masyarakat Indonesia baik yang tinggal di Yogyakarta atau di provinsi lainnya
harapannya dapat lebih dekat dengan pengetahuan mengenai budaya Jawa. Terlebih
lagi, anak-anak muda saat ini yang kurang terinformasi dengan budaya
tradisional yang sebenarnya merupakan identitas dan jati dirinya.
Dengan
bekal pengetahuan yang lebih dalam tentang seluk-beluk kehidupan di Kraton
Yogyakarta, masyarakat khususnya anak muda diharapkan kembali tertarik dengan
budaya yang sudah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang ini. Pelestarian
budaya tidak bisa hanya dilakukan oleh Sultan dan keluarganya beserta para abdi
dalem yang tinggal di dalam tembok keraton. Masyarakat luas dapat terlibat
dengan kapasitas dan caranya masing-masing.
3.2 Saran
Media sosial juga bisa berfungsi
sebagai sarana bagi orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya tentang budaya
Jawa yang terus dilestarikan oleh Kraton Yogyakarta. Saat ini anak-anak di
bangku SMP dan bahkan SD sudah membawa smartphone dan mampu mengakses media
sosial. Daripada secara tegas melarangnya, sebaiknya orang tua mendampingi dan
mengarahkan mereka untuk membuka akun-akun media sosial yang bermanfaat bagi
pengayaan pengetahuannya.
Salah
satunya adalah media sosial Kraton Yogyakarta ini. Bila sejak kecil mereka
sudah diberi pengertian tentang budaya Jawa, maka nantinya mereka tidak merasa
asing dengan budaya leluhurnya itu.
DAFTAR
PUSTAKA
A. BUKU – BUKU
Brongtodiningrat,
K.P.H. 1978. Arti Kraton Yogyakarta.
Yogyakarta : Museum Keraton Yogyakarta.
Feri Selianta. 2015.
Keajaiban Sosial Media. Elex Media Komputindo
B. KARYA TULIS ILMIAH
Nendar. 2007. Peran Keraton Yogyakarta dalam Melestarikan
Nilai-nilai Sosio Kultural Budaya Jawa
Nur Fauzan. 2015.
Pekembangan Teknologi Informasi dan
Komunikasi
C. INTERNET
https://wisatapedi.com/info-lengkap-objek-wisata-sejarah-kraton-yogyakarta/
https://infokomputer.grid.id/tag/tepas-tandha-yekti/
http://www.cahyogya.com/2015/08/inilah-akun-resmi-social-media-kraton-jogja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar