Jumat, 01 Desember 2017

Budaya dan Teknologi "REVOLUSI DIGITAL KERATON YOGYAKARTA DALAM MENGHADAPI KEMAJUAN TEKNOLOGI"



REVOLUSI DIGITAL KRATON YOGYAKARTA DALAM MENGHADAPI KEMAJUAN TEKNOLOGI
Muhamad Nur Rachman Alfi Widjaja (33417789), Kelas 1ID01, Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, Depok


BAB 1 PENDAHULUAN 
1. 1 Latar Belakang
Di era modernisasi saat ini,tidak banyak kerajaan yang masih berdiri, semua itu karena pemerintahan monarki sudah dianggap tidak sesuai untuk kondisi pemerintahan saat ini dan lebih memilih menggunakan sistem pemerintahan demokrasi, begitupun di Indonesia. Namun, di Yogyakarta eksistensi Kraton dan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja masih berlanjut dan berkembang sampai sekarang, dengan sistem pemerintahan itu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bisa bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu kota besar di Indonesia.
Kraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di jantung kota Yogyakarta. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah bergabung dalam NKRI pada tahun 1950, namun komplek keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Kraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata favorit yang paling sering dikunjungi di kota Jogja. Sebagian kompleks kraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, kereta kencana dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki beberapa balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas. Keraton Jogja ini dirancang oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1775, tak lama sesudah penandatanganan Perjanjian Giyanti.
Berbicara soal modernisasi saat ini, tentu modernisasi tak bisa luput dari teknologi, teknologi merupakan perkembangan suatu media atau alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. Karena teknologi bersifat berkembang atau selalu mengikuti perubahan jaman, masyarakat pengguna teknologi pun tanpa disadari mengikuti perubahan tersebut, sehingga jika kita tidak dapat memilah konten-konten dari teknologi tersebut dapat berakibat buruk, contohnya melupakan identitas budaya sendiri dan lebih senang meniru budaya luar dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.                         

1.2 Rumusan Masalah 
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan Kraton Yogyakarta dan Teknologi ?
2. Bagaimana hubungan budaya Kraton Yogyakarta dan Teknologi masa kini ?
3. Apa dampak Teknologi terhadap budaya Kraton Yogyakarta ?
4. Bagaimana upaya Kraton Yogyakarta dalam menghadapi era modernisasi teknologi masa kini.

1.3    Tujuan
1. Untuk mengetahui arti dari Kraton Yogyakarta dan Teknologi
2. Untuk menambah wawasan tentang kebudayaan hubungan Kraton Yogyakarta dan Teknologi masa kini.
 3. Untuk mengetahui dampak Teknologi terhadap budaya Kraton Yogyakarta
4. Untuk mengetahui upaya Kraton Yogyakarta dalam menghadapi era modernisasi teknologi masa kini.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kraton Yogyakarta dan Teknologi 
Sejarah Berdirinya Kraton Yogyakarta
Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Untuk menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini dinilai cukup baik karena diapit dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I). Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.
Kraton merupakan mata air peradaban yang tak pernah surut di makan waktu. Sejak berdirinya, Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, merupakan salah satu dari empat pusat kerajaan Jawa (projo kejawen) yang merupakan pewaris sah kejayaan kebudayaan Mataram. Para raja Mataram dan kemudian para Sultan Yogya mendapat predikat sebgai raja pinandhita dan narendra sudibyo yaitu pencipta (kreator) kebudayaan yang produktif.
Para Sultan bersama para ahli adat, melahirkan gagasan-gagasan asli tentang seni, sastra, sistem sosial, sistem ekonomi, dan seterusnya. Sri Sultan Hamengku Buwono I misalnya, melahirkan banyak karya seni dan arsitektur. Dengan Kraton sebagai pusat, masyarakat Yogya sudah berkembang menjadi sebuah sistem peradaban tersendiri sejak sebelum bergambung dengan RI (1945). Itulah yang disebut dalam Pasal 18 UUD 1945 (sebelum diamandemen) sebagai ‘’susunan asli.” Sejak Kraton berdiri, Yogya telah mempunyai sistem pemerintahan tersendiri dan telah melakukan reformasi pada tahun 1926 (reorganisasi Pangreh Praja). Kraton sebagai pusat peradaban terlihat dari pola penyebaran kebudayaan yang memancarkan keluar secara sentrifugal. Dulu, Kraton merupakan pusat pemerintahan politis. Wilayah kekuasaan kasultanan diklasifikasi menurut konsep lapisan konsentris trimandala praja.
Lapisan terdalam yang merupakan wilayah pusat kerajaan disebut nagara, merupakan ibukota kerajaan yang menjadi tempat tinggal raja dan para pejabat penting. Pusat nagara adalah Kraton.
Lapisan kedua, disebut wilayah nagaragung yaitu daerah-daerah sekitar kota (ommanlanden). Lapisan ketiga, disebut wilayah monconagoro yaitu daerah-daerah yang letaknya jauh (buitengawesten).
Dibandingkan dengan Kraton Yogya, Republik Indonesia adalah sebuah peradaban yang masih sangat muda. Yogya turut membidani kelahiran peradaban baru itu. Ketika RI mengalami masa-masa kelahiran yang sangat kritis, Yogya memberi diri menjadi ”ibu pengasuh” dengan segala pengorbanannya. Secara politis itu sangat jelas, ibukota RI dipindah ke Yogya (sejak 1946). Kraton (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) mengatur strategi Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk menunjukkan eksistensi RI di mata dunia dan sebagainya. Sejak awal, Yogya telah memberikan banyak nutrisi bagi pertumbuhan peradaban Indonesia. RI bagaikan bayi yang menyusu pada Yogya sebagai induk semangnya. Banyak gagasan peradaban muncul dari Yogya. Dalam dunia pendidikan misalnya, pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan bukti sumbangsih kearifan lokal Yogya bagi kemajuan peradaban modern Indonesia.
Sejarah Teknologi
Alat dan teknologi atau teknik hasil penemuan manusia yang pada akhirnya dapat digunakan untuk memudahkan aktifitas manusia itu sendiri. Sejarah teknologi dimulai dari munculnya spesies manusia di muka bumi, jejak-jejak peralatan dan teknologi yang dimiliki manusia sejak awal peradabannya ditemukan, kemudian direkontruksi secara historis dan kemudian dianalisa kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia. Sejarah teknologi manusia dimulai dari hal sederhana seperti pengembangan bahasa, pembuatan perkakas dari batu hingga yang sangat rumit seperti komputer kuantum.
Berkembangnya suatu teknologi aplikatif dapat ditinjau dari kebutuhan manusia sendiri untuk seperti mengatasi perubahan cuaca dan iklim, menghadapi serangan hewan buas, mempermudah aktifitas ekonomi hingga peperangan. Namun teknologi juga dapat berkembang dari aspek teoretis yakni hanya berlandaskan keingintahuan manusia akan fenomena alam yang terjadi disekitarnya, seperti penemuan hukum gravitasi dan kalkulus oleh Isaac Newton dan Leibniz. Sains dan teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan begitu pula sejarah dan perkembangannya. Namun demikian tentu saja dapat terlihat perbedaan yang mencolok saat membahas sejarah dan perkembangan teknologi, sejarah teknologi membahas aspek terapan dari sains, seperti penemuan peralatan atau teknik untuk memudahkan suatu aktifitas manusia. Sedangkan sejarah sains mempunyai cangkupan yang lebih luas karena mengkaji suatu gejala alam atau gejala yang terjadi di kehidupan manusia berdasarkan aspek-aspek teoretis ataupun yang berkaitan dengan hal-hal abstrak secara matematis hingga ranah filsafat.
Karena teknologi merupakan suatu hal yang aplikatif, maka perkembangan teknologi sangat mempengaruhi perubahan aktifitas ekonomi, sosial, politik, dan budaya dari kehidupan manusia, sehingga sejarah teknologi dapat pula direkontruksi berdasarkan perubahan-perubahan ini.Sejarah teknologi membahas perkembangan teknologi secara umum. Sains dan teknologi adalah suatu hal yang sangat luas. Untuk detail yang lebih akurat dari sejarah dan perkembangan dari suatu bidang sains atau teknologi, lebih tepat jika sejarah dari suatu bidang sains atau teknologi ditinjau satu-persatu berdasarkan bidang yang dimaksud.
2.2 Hubungan Budaya Kraton Yogyakarta dan Teknologi masa kini
          Teknologi adalah kekuatan untuk dapat berproses agar mempunyai daya saing untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan. Teknologi merupakan tantangan masa depan yang tidak perlu ditakuti, tapi perlu diberikan ruang dalam batas-batas proporsionalitas yang bisa dilakukan,
          Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi solusi, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai wahana peningkatan kesejahteraan, keunggulan, serta kemandirian daerah dan bangsa dalam percaturan persaingan teknologi dan ekonomi global.
Beda hal nya dengan kebudayaan, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan ada yang berbentuk materi dan non materi. Setiap negara memiliki kebudayaan yang beraneka ragam beserta ciri khasnya, salah satunya ialah kebudayaan Kraton Yogyakarta. Kebudayaan Kraton Yogyakarta mencerminkan perilaku dan kebiasaan dari warga Kraton Yogyakarta. Namun pada zaman sekarang ini nilai-nilai kebudayaan seakan semakin menghilang, hal ini terlihat dari banyaknya perilaku-perilaku yang sudah jauh bertentangan dari nilai-nilai kebudayaan tersebut. Keadaan seperti itu mengharuskan kita untuk lebih menghargai kebudayaan dan membentengi diri dengan memperkuat dimensi dari kebudayaan bangsa.
Pada dasarnya teknologi yang ada saat ini ada karena suatu budaya yang telah ada sejak lama. Dasar-dasar ilmu yang ada untuk menciptakan teknologi itu pun di dapat dari penelitian suatu ilmiah yang terkandung dari suatu budaya. Maka karena itulah budaya dan teknologi saling ketergantungan. 
2.3 Dampak Teknologi terhadap budaya Kraton Yogyakarta
          Adanya Teknologi tentunya sangatlah mempengaruhi perkembangan dan eksistensi budaya Kraton Yogyakarta. Maka dari itu kita bisa simpulkan bahwa Teknologi itu bisa berdampak positif jika menggunakannya dengan baik, juga dapat berdampak negatif bila kita tidak bijak dalam menggunakannya. Berikut merupakan Dampak Positif dan Dampak Negatif dari penggunaan Teknologi terhadap Kraton Yogyakarta.
Dampak postif Teknologi terhadap Kraton Yogyakarta :
1. Memudahkan penyebaran informasi kebudayaan Kraton Yogyakarta
Dengan adanya Teknologi masyarakat akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat, aktual, dan dapat diakses kapan pun dimanapun sehingga masyarakat tidak akan melupakan budaya budaya yang ada di Kraton Yogyakarta.
2. Memudahkan berinteraksi sosial dan berkomunikasi
Di era modernisasi saat ini, dikatakan mudah untuk berkomunikasi. Di temukannya teknologi berupa telepon, surat elektronik, handphone dan alat komunikasi lainnya tentu dapat mempermudah kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi tanpa harus bertatap muka.
3.Efisiensi biaya dalam mendapatkan informasi
Pada jaman dahulu untuk mendapatkan informasi tentu sangatlah susah dan memerlukan biaya, namun dengan perkembangan teknologi saat ini mendapat informasi sangat lah mudah dan tak harus mengeluarkan biaya yang besar, contohnya hanya dengan menggunakan internet kita akan dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan
Dampak negatif Teknologi terhadap Kraton Yogyakarta :
1. Bersifat berkembang
Sekilas kebudayaan dan teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini dan terus berpikir maju kedepan.
2. Budaya hanya jadi objek dari kebudayaan global
budaya Indonesia hanya akan enak ditonton untuk sekadar menghilangkan stres. Tidak seperti negara lain yang menjadikan kebudayaan sebagai subjek.
3. Kesenjangan Sosial
Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.
2.4 Upaya yang dilakukan Kraton Yogyakarta dalam menghadapi era modernisasi
          Sekarang masyarakat bisa tak hanya ngepoin para selebritis, namun juga Keraton Yogyakarta. Istana resmi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu memiliki tiga akun media sosial yang aktif, yaitu Facebook Kraton Jogja, Instagram @kratonjogja_ dan Twitter @kratonjogja. Ketiga akun tersebut berhulu pada situs resmi kratonjogja.id dan dikelola oleh tim Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi baru di Kraton Yogyakarta yang bertugas menangani urusan informasi teknologi (IT) dan dokumentasi. Divisi ini dikepalai oleh GKR Hayu yang merupakan putri keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Gambar diatas merupakan akun media sosial Kraton Yogyakarta di twitter.
Penampilan media sosial Kraton Yogyakarta di Facebook.
Dan inilah penampakan Instagramnya Kraton Yogyakarta.
Kehadiran tiga akun media sosial dan situs yang secara resmi dikelola oleh Kraton Yogyakarta ini merupakan bagian dari upaya untuk menyiarkan budaya adiluhung dari dalam lingkungan keraton ke seluruh penjuru dunia. Pada saat acara peresmian situs resmi yang digelar di Bangsal Sri Manganti, bulan Maret lalu, GKR Hayu mengatakan bahwa informasi yang disebarluaskan melalui media sosial dan situs bersifat aktual dan akurat. Ia pun berharap agar saluran ini bisa menjadi museum virtual tentang kekayaan budaya Jawa.
Sambutan masyarakat pada akun-akun media sosial Kraton Yogyakarta itu sangat baik. Per 11 Mei 2017, mereka telah memiliki sekitar 72,400 pengikut di Instagram, sekitar 19,200 pengikut di Twitter dan 88,800 Facebook fans. Bukan cuma warga Yogyakarta, para pengikut dan fans di akun-akun tersebut juga berasal dari kota-kota lain di Indonesia dan bahkan di luar negeri. Strategi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, alih-alih bahasa Jawa, sepertinya berkontribusi cukup signifikan untuk meningkatkan jumlah pengikut seantero Indonesia dan dari mancanegara.
Ada banyak hal yang bisa masyarakat ketahui dari mengunjungi akun media sosial dan situs Kraton Yogyakarta. Foto-foto dan video yang diunggah dengan tambahan narasi itu menyampaikan beragam hal, misalnya:
   1. jenis-jenis dan aturan busana yang digunakan di lingkungan keraton, mulai dari ageman abdi dalem hingga pakaian surjan Sultan,
   2. rangkaian upacara adat yang rutin digelar oleh Kraton Yogyakarta pada hari-hari khusus,
   3. fungsi bangunan-bangunan yang ada di dalam lingkungan keraton atau di tempat lain yang dikelola oleh pihak Kraton Yogyakarta,
   4. asal-usul nama dan sejarah para prajurit yang ada di Kraton Yogyakarta,
   5. ornamen-ornamen yang menghias bangunan di lingkungan keraton,
   6. kegiatan-kegiatan seni budaya Jawa yang berlangsung di keraton, mulai permainan gamelan, pertunjukan tari, membatik, hingga olahraga memanah tradisional (jemparingan mataraman).
Informasi yang didapatkan lewat media sosial Kraton Yogyakarta sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang budaya Jawa. Dengan umurnya yang sudah sangat panjang, Kraton Yogyakarta yang mulai didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 memiliki budaya yang sarat akan nilai tradisi dan sejarah. Ada hal-hal yang selama ini sudah banyak diangkat di media massa sehingga familiar bagi masyarakat. Namun, juga tak sedikit hal trivia dan sekaligus bermakna filosofis yang selama ini tidak diketahui secara luas.


BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Eksistensi Kraton Yogyakarta di media sosial adalah sesuatu yang perlu kita apresiasi. Masyarakat Indonesia baik yang tinggal di Yogyakarta atau di provinsi lainnya harapannya dapat lebih dekat dengan pengetahuan mengenai budaya Jawa. Terlebih lagi, anak-anak muda saat ini yang kurang terinformasi dengan budaya tradisional yang sebenarnya merupakan identitas dan jati dirinya.
Dengan bekal pengetahuan yang lebih dalam tentang seluk-beluk kehidupan di Kraton Yogyakarta, masyarakat khususnya anak muda diharapkan kembali tertarik dengan budaya yang sudah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang ini. Pelestarian budaya tidak bisa hanya dilakukan oleh Sultan dan keluarganya beserta para abdi dalem yang tinggal di dalam tembok keraton. Masyarakat luas dapat terlibat dengan kapasitas dan caranya masing-masing.
3.2 Saran
          Media sosial juga bisa berfungsi sebagai sarana bagi orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya tentang budaya Jawa yang terus dilestarikan oleh Kraton Yogyakarta. Saat ini anak-anak di bangku SMP dan bahkan SD sudah membawa smartphone dan mampu mengakses media sosial. Daripada secara tegas melarangnya, sebaiknya orang tua mendampingi dan mengarahkan mereka untuk membuka akun-akun media sosial yang bermanfaat bagi pengayaan pengetahuannya.
Salah satunya adalah media sosial Kraton Yogyakarta ini. Bila sejak kecil mereka sudah diberi pengertian tentang budaya Jawa, maka nantinya mereka tidak merasa asing dengan budaya leluhurnya itu.

DAFTAR PUSTAKA

A.  BUKU – BUKU
Brongtodiningrat, K.P.H. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta : Museum Keraton Yogyakarta.
Feri Selianta. 2015. Keajaiban Sosial Media. Elex Media Komputindo
B. KARYA TULIS ILMIAH
Nendar. 2007. Peran Keraton Yogyakarta dalam Melestarikan Nilai-nilai  Sosio Kultural Budaya Jawa
Nur Fauzan. 2015. Pekembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
C. INTERNET
https://wisatapedi.com/info-lengkap-objek-wisata-sejarah-kraton-yogyakarta/
https://infokomputer.grid.id/tag/tepas-tandha-yekti/
http://www.cahyogya.com/2015/08/inilah-akun-resmi-social-media-kraton-jogja.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar